Belahan Jiwa (2005): Drama Psikologis yang Gagal Menyentuh
![]() |
| Sumber gambar: https://www.imdb.com/title/tt0959434/ |
Judul yang Mengecoh Penonton
Sebagaimana judulnya, Belahan Jiwa, penonton mungkin
berekspektasi bahwa film ini adalah drama percintaan yang serba melankolis.
Alih-alih membawa penonton ke dalam drama percintaan, Belahan Jiwa justru menghadirkan kesan misteri melalui potongan
scene-scenenya. Nampaknya, film Belahan Jiwa
memang dirancang misterius dengan sentuhan musik dan sinematografi yang penuh
teka-teki, bahkan terkesan mistis.
Bukan hanya judul yang berhasil
mengecoh penonton, rangkaian peristiwa yang menyertai kehidupan si Tokoh Utama
pun behasil mengelabui penonton. Mungkin, kebanyakan penonton akan bingung
mencari tokoh sentral dalam film ini karena terlalu banyak lakon yang
diceritakan, padahal tokoh-tokoh tersebut hanya sisi lain dari kepribadian
Cempaka, si Tokoh Utama.
Tidak jarang, penonton juga greget ingin mempertemukan tokoh Bumi, Baby Blue, Arimbi, Kairo, Farlina, dan Cempaka dalam satu waktu karena hendak membongkar sifat “busuk” Bumi, meski ternyata Bumi adalah sosok kekasih yang setia dan menerima pasangan apa adanya. Alhasil, Bumi kerap menjadi sasaran prasangka buruk dan kemarahan penonton karena karakternya yang dinilai “brengsek” dan seolah-olah menjalin hubungan dengan banyak wanita.
Porsi Tokoh Utama yang Minim
Meskipun Cempaka adalah tokoh utama
dalam film karya Sekar Ayu Asmara ini, namun tokoh Cempaka kurang mendapat sorotan.
Keseluruhan film lebih banyak menceritakan kehidupan empat sahabat yang sedari
awal menyebut diri mereka sebagai Soulmates. Empat sahabat itu adalah Baby
Blue, Arimbi, Kairo, dan Farlina. Keempat sahabat ini adalah sisi lain dari
diri Cempaka yang mengidap gangguan bipolar. Uniknya, keempat kepribadian lain
Cempaka itu digambarkan saling berinteraksi dan sama-sama terjebak hubungan
rumit dengan Bumi.
Baby Blue adalah kepribadian lain
dari Cempaka yang berprofesi sebagai arsitek dan memeluk agama yang berbeda dengan
kekasihnya, Bumi. Ia memiliki trauma masa lalu akibat kecelakaaan yang
menewaskan saudara kembarnya, Baby Pink. Trauma ini yang kadang membuat jiwanya
tidak stabil dan menjadi histeris tiba-tiba. Hampir di sepanjang film, Baby Blue
selalu dipertemukan dengan orang misterius bernama Jeannette Antoinette Pietermaat.
Menjelang akhir film, terkuak bahwa sosok misterius Jeannete Antoinette adalah
roh orang yang sudah meninggal. Dari pertemuan singkatnya dengan Jeannete
Antoinette, Baby Blue ingin membangun makam impiannya kelak dengan Bumi. Desain
makam yang bisa dikatakan “nyeleneh” itu adalah hasil perenungan Baby Blue
setelah mengetahui esensi kematian. Meskipun pertemuan Jeannette Antoinette dengannya
membuahkan pemikiran baru bagi Baby Blue tentang kematian, namun adegan ini
terkesan mubazir untuk sebuah film berdurasi 1 jam 29 menit 18 detik karena
tidak memberi dampak apapun bagi perkembangan konflik tokoh utama.
Sisi lain dari Cempaka yang kedua
adalah Arimbi, seorang psikolog yang menangani kasus penderita bipolar bernama
Katrina. Katrina memiliki dua kepribadian yang sangat berbeda dengannya, yaitu
Sofia dan Anggoro. Sifat Sofia lebih agresif, kuat, dan menggebu-gebu,
sedangkan Anggoro adalah anak laki-laki berumur delapan tahun yang selalu
diliputi perasaan sedih dan cenderung berduka. Dibandingkan dengan tiga
kepribadian Cempaka lainnya, sosok Arimbi memang terlihat paling tenang dan
mempunyai pengendalian diri paling baik. Namun, pada menit-menit akhir film Belahan Jiwa, kontrol diri Arimbi pun
ikut goyah karena ia merasa dikhianati oleh kekasihnya, Bumi. Kontrol diri
Arimbi makin buruk ketika tahu bahwa hanya ia yang tidak diberi kepastian untuk
dinikahi oleh Bumi.
Kepribadian Cempaka yang selanjutnya
adalah Kairo, pelukis beraliran nihilisme yang terobsesi dengan warna darah
dalam lukisan-lukisannya. Karya-karya Kairo selalu sarat dengan adegan bunuh
diri dan warna merah. Kurator lukisan-lukisannya pun mengatakan bahwa
karya-karya Kairo bisa menuai kontroversi dan menjadi viral. Dari semua
kepribadian Cempaka, Kairo terlihat paling kontras dengan karakter asli Cempaka
yang pendiam dan polos.
Kepribadian terakhir dalam diri
Cempaka adalah Farlina, desainer kontroversial yang dikecam oleh ormas agama
karena desain baju-bajunya yang mengumbar syahwat. Farlina bisa dikatakan
sukses dalam dunia fashion karena dibiayai oleh investor kaya yang berkecimpung
di bisnis tambang. karier cemerlang Farlina nampaknya tidak bertahan lama
setelah ia mengetahui kehamilannya. Farlina pun berusaha keras menutupi
perutnya yang semakin membesar dengan memakai hijab. Ternyata keputusannya memakai
hijab berimbas langsung pada bisnis bajunya. Investor yang mensponsori bisnis
Farlina akhirnya memutus kerjasama dengannya karena citra Farlina yang tidak
lagi cocok dengan rancangan baju-bajunya selama ini. Di sisi lain, kecaman demi
kecaman yang diarahkan padanya akhirnya mereda, bahkan pemimpin aksi tersebut
telah akur dengan Farlina.
Trauma masa kecil Cempaka pun
terkuak. Ternyata, ia pernah dilecehkan secara seksual oleh ayahnya. Cempaka
juga menyaksikan secara langsung pembunuhan yang dilakukan sang ayah pada
ibunya. Bahkan ayahnya memutuskan mati gantung diri setelah mencekik leher
istrinya sampai tewas. Dalam kilas balik masa lalu Cempaka itu juga ditampakkan
bahwa Cempaka kecil mengalami pendarahan akibat
pelecehan seksual yang dilakukan sang Ayah.
Setelah menyoroti masing-masing
kepribadian Cempaka dan kehidupan imajinatifnya, akhirnya Belahan Jiwa pun mencapai ketegangan konflik antartokohnya. Cempaka
kian meragukan kesetiaan Bumi dan menduga-duga bahwa sebenarnya Bumi berselingkuh
dengan wanita lain. Sedangkan Arimbi dan Kairo justru terjebak dengan gangguan
mental mereka. Tekanan mental yang dialami Arimbi karena masa depan bayinya
yang tidak jelas mendorongnya untuk bunuh diri. Berbeda dengan Arimbi, Kairo
justru ingin menggugurkan kandungannya dan mendapatkan darah dari hasil aborsi
itu.
Baby Blue, Kairo, dan Farlina ingin
segera bertemu Bumi dan meminta pertanggungjawabannya. Tidak sampai menemui
Bumi, mereka justru menghampiri Cempaka di ruang perawatan dan memaki-makinya.
Cempaka pun melarikan diri ke hutan dan bertemu dengan sisi kepribadiannya yang
lain, Arimbi. Di sana, Arimbi berusaha melakukan gantung diri dengan tali
tambang. Cempaka yang mengetahui niat Arimbi segera menghentikannya. Cempaka
naik ke atas pohon dan hendak menggantung dirinya dengan tali itu. Baby Blue,
Kairo, dan Farlina yang mencegah Cempaka, namun Cempaka tetap bersikukuh
mengakhiri hidupnya. Bersamaan dengan tewasnya Cempaka, keempat kepribadian
Cempaka juga akhirnya ikut menghilang. Bumi yang tidak sempat menghentikan
Cempaka merasa menyesal dan sangat kehilangan. Teka-teki penonton pun terjawab
di akhir film. Bumi bertemu dengan psikolog yang menangani gangguan mental
Cempaka selama ini. Psikolog tersebut menceritakan gangguan bipolar yang
dialami Cempaka. Pada detik-detik akhir film, diperlihatkan pula kesedihan
tokoh Bumi yang mengenang mendiang kekasihnya melalui surat-surat dari Cempaka yang
dikirimkan dengan nama berbeda, yaitu Baby Blue, Kairo, Arimbi, dan Farlina.
Baby Blue Baby Blue, Kairo, Arimbi,
dan Farlina seakan-akan merepresentasikan kondisi kejiwaan yang dialami
Cempaka. Baby Blue menjadi sisi Cempaka yang menderita trauma akibat kematian
ibu dan ayahnya. Kairo yang terobsesi dengan paham nihilisme dan darah mewakili
gangguan psikologi yang dialami Cempaka setelah bunuh diri ayah kandungnya.
Sedangkan Arimbi yang berprofesi sebagai psikologi merupakan sisi pengendalian
diri Cempaka yang akhirnya juga tumbang. Sayangnya, gangguan psikologis Cempaka
kurang dieksplor di film ini sehingga kurang bisa menguras empati dan emosi
pononton.


Komentar
Posting Komentar