Belahan Jiwa (2005): Drama Psikologis yang Gagal Menyentuh

 

Sumber gambar: https://www.imdb.com/title/tt0959434/

Oleh Justitia Maulida

Film Belahan Jiwa mengisahkan kehidupan asmara Bumi dan kekasihnya, Cempaka, yang sedang berjuang melawan gangguan bipolarnya. Dari segi tema, film garapan Sekar Ayu Asmara ini tergolong berani untuk ukuran film produksi tahun 2000-an. Pasalnya, cukup jarang film Indonesia kala itu yang mengupas kehidupan seorang penderita bipolar, mengingat minimnya kesadaran masyarakat terhadap isu-isu gangguan mental, apalagi bipolar. Belahan Jiwa pun berhasil memberikan warna yang berbeda di jagad perfilm-an Indonesia pada dekade awal tahun 2000. Film ini diganjar predikat Best International Feature Film dalam New York International Indepent Film dan Video Festival pada tahun 2007.

Judul yang Mengecoh Penonton

Sebagaimana judulnya, Belahan Jiwa, penonton mungkin berekspektasi bahwa film ini adalah drama percintaan yang serba melankolis. Alih-alih membawa penonton ke dalam drama percintaan, Belahan Jiwa justru menghadirkan kesan misteri melalui potongan scene-scenenya. Nampaknya, film Belahan Jiwa memang dirancang misterius dengan sentuhan musik dan sinematografi yang penuh teka-teki, bahkan terkesan mistis.

Bukan hanya judul yang berhasil mengecoh penonton, rangkaian peristiwa yang menyertai kehidupan si Tokoh Utama pun behasil mengelabui penonton. Mungkin, kebanyakan penonton akan bingung mencari tokoh sentral dalam film ini karena terlalu banyak lakon yang diceritakan, padahal tokoh-tokoh tersebut hanya sisi lain dari kepribadian Cempaka, si Tokoh Utama.

Tidak jarang, penonton juga greget ingin mempertemukan tokoh Bumi, Baby Blue, Arimbi, Kairo, Farlina, dan Cempaka dalam satu waktu karena hendak membongkar sifat “busuk” Bumi, meski ternyata Bumi adalah sosok kekasih yang setia dan menerima pasangan apa adanya. Alhasil, Bumi kerap menjadi sasaran prasangka buruk dan kemarahan penonton karena karakternya yang dinilai “brengsek” dan seolah-olah menjalin hubungan dengan banyak wanita.

Porsi Tokoh Utama yang Minim

Meskipun Cempaka adalah tokoh utama dalam film karya Sekar Ayu Asmara ini, namun tokoh Cempaka kurang mendapat sorotan. Keseluruhan film lebih banyak menceritakan kehidupan empat sahabat yang sedari awal menyebut diri mereka sebagai Soulmates. Empat sahabat itu adalah Baby Blue, Arimbi, Kairo, dan Farlina. Keempat sahabat ini adalah sisi lain dari diri Cempaka yang mengidap gangguan bipolar. Uniknya, keempat kepribadian lain Cempaka itu digambarkan saling berinteraksi dan sama-sama terjebak hubungan rumit dengan Bumi.

Baby Blue adalah kepribadian lain dari Cempaka yang berprofesi sebagai arsitek dan memeluk agama yang berbeda dengan kekasihnya, Bumi. Ia memiliki trauma masa lalu akibat kecelakaaan yang menewaskan saudara kembarnya, Baby Pink. Trauma ini yang kadang membuat jiwanya tidak stabil dan menjadi histeris tiba-tiba. Hampir di sepanjang film, Baby Blue selalu dipertemukan dengan orang misterius bernama Jeannette Antoinette Pietermaat. Menjelang akhir film, terkuak bahwa sosok misterius Jeannete Antoinette adalah roh orang yang sudah meninggal. Dari pertemuan singkatnya dengan Jeannete Antoinette, Baby Blue ingin membangun makam impiannya kelak dengan Bumi. Desain makam yang bisa dikatakan “nyeleneh” itu adalah hasil perenungan Baby Blue setelah mengetahui esensi kematian. Meskipun pertemuan Jeannette Antoinette dengannya membuahkan pemikiran baru bagi Baby Blue tentang kematian, namun adegan ini terkesan mubazir untuk sebuah film berdurasi 1 jam 29 menit 18 detik karena tidak memberi dampak apapun bagi perkembangan konflik tokoh utama.

Sisi lain dari Cempaka yang kedua adalah Arimbi, seorang psikolog yang menangani kasus penderita bipolar bernama Katrina. Katrina memiliki dua kepribadian yang sangat berbeda dengannya, yaitu Sofia dan Anggoro. Sifat Sofia lebih agresif, kuat, dan menggebu-gebu, sedangkan Anggoro adalah anak laki-laki berumur delapan tahun yang selalu diliputi perasaan sedih dan cenderung berduka. Dibandingkan dengan tiga kepribadian Cempaka lainnya, sosok Arimbi memang terlihat paling tenang dan mempunyai pengendalian diri paling baik. Namun, pada menit-menit akhir film Belahan Jiwa, kontrol diri Arimbi pun ikut goyah karena ia merasa dikhianati oleh kekasihnya, Bumi. Kontrol diri Arimbi makin buruk ketika tahu bahwa hanya ia yang tidak diberi kepastian untuk dinikahi oleh Bumi.

Kepribadian Cempaka yang selanjutnya adalah Kairo, pelukis beraliran nihilisme yang terobsesi dengan warna darah dalam lukisan-lukisannya. Karya-karya Kairo selalu sarat dengan adegan bunuh diri dan warna merah. Kurator lukisan-lukisannya pun mengatakan bahwa karya-karya Kairo bisa menuai kontroversi dan menjadi viral. Dari semua kepribadian Cempaka, Kairo terlihat paling kontras dengan karakter asli Cempaka yang pendiam dan polos.

Kepribadian terakhir dalam diri Cempaka adalah Farlina, desainer kontroversial yang dikecam oleh ormas agama karena desain baju-bajunya yang mengumbar syahwat. Farlina bisa dikatakan sukses dalam dunia fashion karena dibiayai oleh investor kaya yang berkecimpung di bisnis tambang. karier cemerlang Farlina nampaknya tidak bertahan lama setelah ia mengetahui kehamilannya. Farlina pun berusaha keras menutupi perutnya yang semakin membesar dengan memakai hijab. Ternyata keputusannya memakai hijab berimbas langsung pada bisnis bajunya. Investor yang mensponsori bisnis Farlina akhirnya memutus kerjasama dengannya karena citra Farlina yang tidak lagi cocok dengan rancangan baju-bajunya selama ini. Di sisi lain, kecaman demi kecaman yang diarahkan padanya akhirnya mereda, bahkan pemimpin aksi tersebut telah akur dengan Farlina.

Trauma masa kecil Cempaka pun terkuak. Ternyata, ia pernah dilecehkan secara seksual oleh ayahnya. Cempaka juga menyaksikan secara langsung pembunuhan yang dilakukan sang ayah pada ibunya. Bahkan ayahnya memutuskan mati gantung diri setelah mencekik leher istrinya sampai tewas. Dalam kilas balik masa lalu Cempaka itu juga ditampakkan bahwa Cempaka kecil mengalami pendarahan akibat  pelecehan seksual yang dilakukan sang Ayah.

Setelah menyoroti masing-masing kepribadian Cempaka dan kehidupan imajinatifnya, akhirnya Belahan Jiwa pun mencapai ketegangan konflik antartokohnya. Cempaka kian meragukan kesetiaan Bumi dan menduga-duga bahwa sebenarnya Bumi berselingkuh dengan wanita lain. Sedangkan Arimbi dan Kairo justru terjebak dengan gangguan mental mereka. Tekanan mental yang dialami Arimbi karena masa depan bayinya yang tidak jelas mendorongnya untuk bunuh diri. Berbeda dengan Arimbi, Kairo justru ingin menggugurkan kandungannya dan mendapatkan darah dari hasil aborsi itu.

Baby Blue, Kairo, dan Farlina ingin segera bertemu Bumi dan meminta pertanggungjawabannya. Tidak sampai menemui Bumi, mereka justru menghampiri Cempaka di ruang perawatan dan memaki-makinya. Cempaka pun melarikan diri ke hutan dan bertemu dengan sisi kepribadiannya yang lain, Arimbi. Di sana, Arimbi berusaha melakukan gantung diri dengan tali tambang. Cempaka yang mengetahui niat Arimbi segera menghentikannya. Cempaka naik ke atas pohon dan hendak menggantung dirinya dengan tali itu. Baby Blue, Kairo, dan Farlina yang mencegah Cempaka, namun Cempaka tetap bersikukuh mengakhiri hidupnya. Bersamaan dengan tewasnya Cempaka, keempat kepribadian Cempaka juga akhirnya ikut menghilang. Bumi yang tidak sempat menghentikan Cempaka merasa menyesal dan sangat kehilangan. Teka-teki penonton pun terjawab di akhir film. Bumi bertemu dengan psikolog yang menangani gangguan mental Cempaka selama ini. Psikolog tersebut menceritakan gangguan bipolar yang dialami Cempaka. Pada detik-detik akhir film, diperlihatkan pula kesedihan tokoh Bumi yang mengenang mendiang kekasihnya melalui surat-surat dari Cempaka yang dikirimkan dengan nama berbeda, yaitu Baby Blue, Kairo, Arimbi, dan Farlina.

Baby Blue Baby Blue, Kairo, Arimbi, dan Farlina seakan-akan merepresentasikan kondisi kejiwaan yang dialami Cempaka. Baby Blue menjadi sisi Cempaka yang menderita trauma akibat kematian ibu dan ayahnya. Kairo yang terobsesi dengan paham nihilisme dan darah mewakili gangguan psikologi yang dialami Cempaka setelah bunuh diri ayah kandungnya. Sedangkan Arimbi yang berprofesi sebagai psikologi merupakan sisi pengendalian diri Cempaka yang akhirnya juga tumbang. Sayangnya, gangguan psikologis Cempaka kurang dieksplor di film ini sehingga kurang bisa menguras empati dan emosi pononton.

Pesan bagi Orang Tua

Sebuah pesan singkat berbunyi: “Orang tua adalah cermin di mana anak melihat masa depannya” dilampirkan di penghujung film Belahan Jiwa. Seolah pesan ini menjadi nasehat tersendiri bagi penonton, terutama orang tua dalam mendidik anak-anak mereka.

Sebagai institusi pertama bagi anak, keluarga memang semestinya jadi tempat paling ideal bagi pertumbuhan kognitif dan psilogis anak. Hal ini yang setidaknya ingin disampaikan oleh sang sutradara, Sekar Ayu Asmara, kepada penonton melalui peristiwa traumatis tokoh Cempaka. Sekar berhasil membungkus pesan tersebut dengan menghadirkan konflik kekerasan seksual di lingkup keluarga yang jarang disorot oleh sutradara pada masa itu. Sadar atau tidak, keluarga memang berpotensi menjadi pelaku kekerasan dan pembunuh karakter anak. Permasalahan serupa juga masih terjadi sampai sekarang. Hal ini sesuai dengan data dari Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Peempuan (Komnas Perempuan) yang dipublikasikan pada 6 Maret 2019. Data tersebut menunjukkan bahwa pelaku kekerasan seksual yang berasal dari keluarga dan hubungan personal paling banyak dilaporkan adala pacar, yakni 1.670 kasus. Selain pacae, pelaku kekerasan seksual dalam lingkup keluarga juga kerap dilakukan oleh ayah kandung dan ayah tiri. Pelaku kekerasan terhadap perempuan yang merupakan ayah kandung dan paman masing-masing mencapai 365 dan 306 kasus. 

Komentar

Postingan Populer