Bergerilya Lewat Serial India

Gambar oleh Free-Photos dari Pixabay

Penulis: Justitia Maulida

Serial India telah lekat dengan citra beberapa stasiun televisi Indonesia sejak tahun 90-an hingga awal abad 21, empat di antaranya yaitu ANTV, Indosiar, MNCTV, dan SCTV. Tentu saja dari keempat nama stasiun TV besar tersebut, ANTV paling identik dengan konten berbau Hindustan. Kesuksesan Mahabharata, Jodha Akbar, hingga Ramayana menyumbang rating dan keuntungan yang tidak sedikit bagi ANTV. Serial India seolah telah turut ambil bagian dalam branding saluran tv swasta ini.

Dari puluhan judul serial India yang mengudara di layar kaca ANTV pada 2016 silam, Anandhi menjadi salah satu yang paling mencuri perhatian. Dengan jumlah episode terbanyak sepanjang sejarah serial India, yaitu 2500 episode, serial Anandhi berhasil menyuguhkan konflik sosial dan psikologis tradisi pernikahan anak di India. Serial yang tayang perdana di Colors TV tersebut disutradarai oleh Sidharth Sengupta dan Pradeep Yadav. Ribuan episode Serial Anandhi akhirnya tamat setelah 8 tahun masa penayangannya di negara asalnya.

Serial yang memiliki judul asli Balika Vadhu ini mengangkat kisah Anandhi, seorang anak perempuan berusia 13 tahun yang dijodohkan ketika masih duduk di bangku sekolah dasar. Anandhi yang masih sangat belia belum memahami tradisi perjodohan dan konsep pernikahan sehingga ia tidak melakukan pemberontakan ketika dipasangkan dengan Jagdish. Ibu guru Anandhi yang mengetahui perjodohan Anandhi berusaha berkompromi dengan orang tua Anandhi agar membatalkan pernikahan Anandhi. Namun, usahanya sia-sia dan justru “ditertawakan”. Perjodohan anak bukan hanya perkara tradisi dan pandangan konservatif masyarakat terhadap kesetaraan gender, namun juga berkaitan dengan masalah kemiskinan dan jual beli anak perempuan di dalamnya. Menurut artikel The Newyork Times, praktik pernikahan anak tidak jarang dijadikan dalih pertukaran mahar dan sex trafficking oleh para orang tua yang terhimpit perkara finansial. Hal ini menambah peliknya upaya pengentasan budaya pernikahan anak di India karena kompleksitas masalah tersebut.

Segera setelah dijodohkan, Anandhi dilarang pergi sekolah oleh ayahnya karena harus belajar mengurus pekerjaan rumah tangga sebagaimana anak-anak perempuan yang telah dijodohkan pada umumnya. Anandhi terpaksa patuh meskipun sebenarnya masih ingin melanjutkan pendidikan dan bermain boneka dengan kawan-kawannya. Desakan ekonomi memaksa orang tua Anandhi menikahkan putrinya yang masih sangat belia.

Serial Anandhi merepresentasikan budaya perkawinan dini yang masih mengakar di India. Hukum adat dan perspektif agama menjadi salah satu faktor langgengnya tradisi ini di kalangan penduduk asli India. Meski illegal dan melanggar hukum, sebagian penduduk tidak jera melakukan praktik pernikahan anak. Dilansir dari wawancara Vice dengan salah satu warga India yang menghadiri acara pernikahan anak, perempuan remaja yang dijodohkan dan dinikahkan tidak pernah dimintai pendapat atau ikut menentukan calon jodohnya, bahkan mereka baru mengetahui perihal pernikahannya pada hari H acara perhelatan.

Selain Anandhi, serial India yang mengusung tema pernikahan anak dan pernah dibeli televisi Indonesia adalah Gangga. Serial Gangga menceritakan kisah seorang anak perempuan yang menjanda karena terjadi kerusuhan yang menewaskan suami dan ayahnya ketika ia masih berusia 5 tahun. Alih-alih mendapat simpati dari keluarga dan warga di lingkungan tempat tinggalnya, ia justru dikucilkan dan tersisih dari kehidupan sosial masyarakat pada umumnya. Menyandang status janda dianggap sebagai ketidakberuntungan bagi seorang perempuan di India. Mereka sering dilabeli sebagai  “pembawa sial” dan membawa kutukan bagi orang-orang di sekitarnya. Yang lebih menyedihkan, stereotip demikian juga menyertai anak-anak perempuan yang ditinggal mati suaminya, termasuk tokoh Gangga dalam serial tersebut.

Dilansir dari sebuah artikel berjudul For Widows, Life After Loss yang dirilis National Geography, seorang janda dilarang mengenakan pakaian berwarna dan membubuhkan riasan di wajahnya karena image tersebut dianggap tidak pantas untuk seorang wanita ‘hina’ yang berkabung hingga akhir hayatnya. Masyarakat India yang tinggal di lingkungan konservatif mengamini budaya tersebut karena mengira tuntunan dan stigmatisasi perempuan janda sebagai ‘pembawa sial’ berasal dari Kitab Weda. Namun, menurut keterangan Meera Khanna, seorang penulis Delhi yang bekerja untuk Guild for Service (organisasi advokasi untuk janda), stigmatisasi janda bukan bersumber dari Kitab Suci Weda, melainkan berasal dari generasi-generasi tradisi yang represif.

Kaum tradisi yang represif terhadap perempuan direpresentasikan oleh sosok Kalyani Devi dalam serial Anandhi. Kalyani Devi adalah nenek Jagdish sekaligus pemangku adat yang dihormati masyarakat di lingkungannya. Sejalan dengan perannya yang bertugas merawat tradisi, Kalyani Devi kerap mengekang Anandhi dan mempengaruhi pola pikir Jagdish terkait hierarkhi suami dan istri. Berkat pengaruh dari nenek Jagdish, Anandhi sering diposisikan sebagai pihak lemah yang harus tunduk dengan perintah suami dan keluarga mertuanya. 

Gangga dan Anandhi hanyalah contoh kecil dari lanskap sinema India yang “berani” menyinggung isu pernikahan dini dan kesetaraan gender. Beberapa judul serial India yang telah dibeli lesensinya oleh stasiun televisi nasional juga sedikit banyak mencantumkan gambaran kolot tradisi berpakaian perempuan yang sudah menikah di India dan tumpang tindih peran suami-istri dalam keluarga. Artinya, industri hiburan India memang menjadi medan perlawanan yang cukup ‘efektif’ untuk menggaungkan penolakan terhadap tradisi leluhur yang diskriminatif. Hal ini diperkuat oleh pernyataan Kaul dan Sahni (dalam Ravi, 2018:62) menyatakan bahwa sikap negatif terhadap perempuan dalam realitas masyarakat dapat dubah melalui perwakilan media. Representasi ini mengungkapkan bahwa wanita kurang diterima dan dihormati sebagai manusia dan kerap dipandang sebagai objek. Wanita kerap dilekatkan dengan peran domestik, dekoratif, dan biologis.

Faktor Pendukung Pernikahan Anak

Dikutip dari laman Girls Not Brides, organisasi global non-pemerintah yang membawa misi menghapuskan budaya perkawinan anak di belahan dunia, faktor pendukung tingginya tingkat perkawinan anak di India adalah stigma masyarakat yang menganggap anak perempuan lebih rendah dari laki-laki. Faktor kemiskinan, norma gender, adat istiadat, dan pandangan konvensional masyarakat India terhadap gender juga menjadi alasan kuat tradisi perkawinan anak tetap dipertahankan.

Pertunangan anak lazim dilakukan oleh orang tua calon mempelai pria dan wanita bahkan sebelum anak tersebut lahir ke dunia dengan tujuan “mengamankan” masa depan anak mereka. Begitu sang anak perempuan telah mencapai masa pubertas, ia dikirim ke rumah keluarga tunangannya untuk melakukan adat guana atau “send off”. Masa pubertas dianggap sebagai waktu emas mengawinkan anak karena usia tersebut dianggap masa ‘produktif’ perempuan. Banyak keluarga menganggap anak perempuan sebagai paraya dhan atau kekayaan orang lain. Masa produktif seorang perempuan dipercaya menguntungkan keluarga mertuanya, sehingga setelah mencapai masa pubertas, perempuan tersebut harus rela meninggalkan bangku sekolah untuk dijodohkan dan menikah. Tidak heran, perempuan remaja harus rela mengurus rumah tangga dan meninggalkan pendidikan serta masa kecilnya karena perspektif kuno masyarakat India terhadap gender dan reproduksi perempuan.

Lebih lanjut, Girls Not Brides menegaskan bahwa hukum adat yang berkiblat pada agama adalah penghalang utama upaya penghapusan pernikahan anak di India. Tekanan sosial untuk menikah pada usia pubertas menyumbang pengaruh besar di dalam kasta-kasta tertentu. Perkawinan anak kadang-kadang digunakan untuk mengontrol seksualitas perempuan, menguduskan seks, dan memastikan reproduksi. Pernikahan juga digunakan untuk menjaga kemurnian gadis-gadis segera setelah mencapai masa pubertas dan untuk memastikan bahwa mereka tidak “dirusak” oleh laki-laki dari kasta yang lebih rendah. Kemurnian dan kesucian anak perempuan menjadi parameter untuk mengukur kehormatan dan kredibilitas sang ayah dalam mendidik putri-putri di keluarganya. Seorang ayah dapat dikatakan gagal mempertahankan kredibilitasnya di mata masyarakat apabila membiarkan anak perempuan mereka menikah dengan laki-laki dari kasta yang lebih rendah atau melangsungkan pernikahan tanpa persetujuan keluarga. Faktor lain yang memaksa orang tua menikahkan anak perempuan mereka di usia belia adalah kekhawatiran mereka akan kharab mahaul (lingkungan eksternal yang rusak) serta “dosa keluarga” yang diterima orang tua jika anak perempuan kehilangan keperawanannya sebelum dinikahkan. Namun, sebuah studi tahun 2014 menemukan bahwa pengantin anak di India berisiko lebih tinggi menerima kekerasan seksual dan fisik dalam rumah tangga.

Hingga kini, pemerintah India masih berupaya memerangi tradisi perkawinan anak dengan menetapkan undang-undang tentang batas usia minimal menikah bagi laki-laki dan perempuan. Meskipun undang-undang tersebut telah diterbitkan sejak 2006, kasus perkawinan anak masih terus berlanjut dan menuntut perhatian warga internasional, masyarakat India, serta pelaku industri media untuk mendukung pengentasan perkawinan anak dan melindungi hak anak-anak di India.

Komentar

  1. Aku lebih suka Anandhi daripada Gangga. Anandhi masih memiliki daya untuk bangkit dan tidak pasrah, contoh itu yang patut dikembangkan. Konflik dalam cerita Anandhi juga tidak flat dan beragam, karakter yang ada disana juga berkembang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih Sella responnya. Makasih juga udah disempetin mampir, wkwkwk.

      Hapus

Posting Komentar

Postingan Populer