Menutup Nostalgia TV Analog
![]() |
| Sumber gambar: https://pixabay.com/photos/the-old-tv-gray-old-2882742/ |
Keluarga saya adalah fans berat tv analog. Alasannya sederhana, tv analog lebih awet dan tahan banting, katanya. Lalu, bagaimana reaksi orang tua saya jika tahu TV analog akan berhenti mengudara?
oleh: Justitia Maulida
Rutinitas pagi itu sebenarnya biasa saja. Hanya satu yang berbeda, pembahasan penghentian siaran TV analog akhirnya terdengar di meja makan keluarga. Yah, wacana ini memang bukan sekali dua kali bertengger di halaman surat kabar digital favorit saya, tapi tampaknya kali ini pemerintah benar-benar serius menghentikan layanan tv analog.
Tentu saja orang tua saya sama-sama belum tahu karena keduanya jarang menonton TV. Mayoritas informasi yang mereka konsumsi hanya berasal dari pesan Whatsapp yang di-forward dan tidak jelas juntrungannya.
"Lha terus piye? Gak iso ndilok TV maneh berarti? Ganti anyar opo piye? (Lalu gimana? Nggak bisa nonton TV dong? Ganti yang baru gimana?)," tanya Bapak dengan tatapan nanap.
Dengan enteng, saya meringis dan menjawab "Wong ora tahu ndilok TV maneh kok bingung." (Kan kita nggak pernah nonton tv lagi, kok bingung)
Keluarga saya memang sudah jarang menonton TV. Ibuk lebih gemar mendengarkan siaran radio random saban pagi. Saya sampai mafhum dengan kebiasaan ini. Bada subuh, beliau mesti menjinjing radio dan menyenandungkan lagu-lagu legendaris Raja Dangdut sembari menunaikan tugas memasaknya. Meski someng terdengar, kombinasi sengak bumbu dapur yang mengepul dari dasar wajan dan tabuhan gendang telah menjadi ritus pagi baginya.
Di sisi lain, Bapak akan setia dengan gawai terbarunya yang dibeli tahun lalu. Ludruk dan dakwah jadi konten favorit beliau tiap kali mengklik ikon Youtube.
Bagaimana dengan saya? Saya tidak jauh beda dengan anak millenial lain yang hobi bolak-balik dari Youtube ke Twitter sambil meluruskan kaki di dipan. Jika merasa sedang miskin informasi, saya akan membuka deretan artikel Tirto.id atau mendengarkan podcast INSENTIF yang hanya berdurasi 7-10 menit. Khas generasi millenial, bukan?
Mungkin keluarga saya bukan satu-satunya yang perlahan berpaling dari TV. Berdasarkan survei Indikator Politik mengenai akses media dan perilaku digital, 55,3% responden mengaku lebih sering menggunakan internet, sedangkan 36,1% lainnya lebih acap menonton televisi.
Ada beberapa faktor yang melatarbelakangi penurunan jumlah penonton TV. Pertama, karena peran televisi telah diambil alih oleh gawai. Semakin canggihnya fitur smartphone memungkinkan masyarakat berkomunikasi melalui video call, serta melakukan berbagai aktivitas jual beli maupun transaksi antarbank di benda elektronik tersebut. Kecanggihan smartphone membuat masyarakat lebih betah menghabiskan waktunya di depan layar smartphone dibanding televisi.
Kedua, kualitas program TV yang makin merosot setiap tahunnya. Berdasarkan riset KPI terhadap indeks kualitas program TV tahun 2019, terdapat lima kategori program TV yang lulus standar, yaitu 1) wisata dan budaya, 2) religi, 3) berita, 4) anak, dan 5) talkshow. Di sisi lain, program infotaiment, reality show, dan sinetron dinilai belum layak dan tidak memenuhi standar KPI.
Di samping itu, program TV yang ditayangkan tidak mengakomodasi kepentingan masyarakat dan hanya fokus untuk mendulang rating tinggi. Berbagai program televisi bahkan mempertontonkan kemiskinan untuk merebut simpati masyarakat luas. Bukan hanya kemiskinan, TV juga memberikan jatah tayangan bagi pernikahan artis seperti Nagita Slavina dan Raffi Ahmad, Lesti Kejora dan Rizky Billar, Aurel dan Atta, hingga pedangdut papan atas, Via Vallen. Alhasil, belasan jam tayangan televisi diisi dengan siaran langsung prosesi pernikahan puluhan artis terkenal. Tayangan hiburan lain yang dianggap kurang membawa profit mesti digeser demi keuntungan stasiun TV.
Ketiga, natalitas layanan streaming film dan series yang tidak dapat dibendung. Netflix, Disney Hotsar, Viu, dan WeTV merupakan rival sengit bagi industri pertelevisian Indonesia. Layanan streaming tersebut bukan hanya menyajikan konten berkualitas, tetapi juga bebas diakses kapan saja dan di mana saja. Meski harus membayar relatif mahal, masyarakat terutama kalangan millenial dan gen Z lebih rela mengeluarkan puluhan bahkan ratusan ribu untuk menikmati suguhan konten di layanan streaming film dan series tersebut tiap bulannya.
Keempat, pemerataan akses internet. Terjadinya percepatan pemerataan akses internet beberapa tahun belakangan salah satunya didorong oleh pandemi COVID-19 dan tuntutan dunia pendidikan akan praktik pendidikan dan pengajaran.
Jangkauan internet yang makin luas kemudian berimbas pada peningkatan jumlah pengguna internet. Game online, Youtube, Twitter, Tiktok, Whatsapp, Instagram, dan beragam layanan streaming film menjadi hiburan alternatif di samping TV yang membius anak muda hingga orang tua.
***
Bagaimanapun, TV analog telah menjadi salah satu benda berharga yang menghias masa kecil saya sehingga keputusan memberhentikan siaran TV analog sedikit banyak menimbulkan emosi sentimentil dalam diri saya kala itu. Beberapa hari sebelum TV analog resmi dimatikan, saya memutuskan mengambil remot tv usang di atas meja ruang tengah dan spontan mencari stasiun tv andalan saya untuk sekadar bernostalgia. Alih-alih mengenang momen kebahagiaan saya menonton Barbie dan Spongebob, saya justru dihadapkan pada realita bahwa kualitas program televisi kita sudah jauh tertinggal dengan layanan streaming dan media sosial.
Jika TV bersikukuh mempertahankan program-programnya yang minim inovasi, mungkin berakhirnya era kejayaan TV bukan lagi sekadar prediksi, melainkan sesuatu yang pasti.
Terima kasih dan selamat tinggal TVtabung.




Komentar
Posting Komentar